Thursday, August 21, 2008
नसीब
APolis...polis...polis... kita
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0210/06/utama/D
Kisah WNI Korban Sindikat Pelacuran
Dilecehkan dan Dijadikan Tersangka di Malaysia
KAMI seperti lepas dari mulut singa masuk ke mulut buaya. Sebab, kami dibebaskan dari sindikat kemudian ditahan polis seperti penjahat," ujar Asih (24), warga negara Indonesia (WNI) yang dijual kepada sindikat pelacuran di Malaysia, mengawali cerita tentang perlakuan aparat hukum di Tawau, Sabah.
Asih-demikian nama samaran gadis Jombang, Jawa Timur itu-bersama 13 rekannya masih terlihat lesu dan curiga terhadap orang asing setelah 23 hari ditahan oleh aparat Malaysia. Selama dua minggu, mereka dijebloskan di sel Balai Polis Tawau, kemudian dipindahkan di Pusat Tahanan Sementara (PTS) milik Imigresen Malaysia (Dinas Imigrasi-Red).
Seluruh perempuan itu adalah korban sindikat pelacuran yang mengiming-imingi pekerjaan bergaji besar di Malaysia yang mencari mangsa di Jawa dan Sulawesi.
Mereka enggan berbicara dengan orang lain, terlebih setelah sempat menjadi tontonan gratis warga Tawau dan diliput oleh media lokal. Setelah satu jam lebih didekati, barulah Asih dan teman-temannya yang ditampung di Wisma RI, mau berbicara.
Semula mereka berpikir akan menghirup udara bebas sewaktu dibebaskan oleh tim gabungan Kantor Penghubung Urusan RI di Tawau bersama kepolisian setempat. Empat belas perempuan muda itu dibebaskan tanggal 10 September lalu dari Hotel Tanjung di Jalan Haji Karim, Kawasan Bandar Fajar di Kota Tawau.
Namun, impian menghirup udara kebebasan musnah, dan berubah menjadi bencana, ketika mereka tidak mendapat perlindungan hukum dan justru dijadikan tersangka dengan tuduhan melanggar aturan imigrasi Malaysia. Malah, perlakuan tidak senonoh sempat diterima oleh mereka sejak pertama kali "dibebaskan" Polis Malaysia.
"Aku sempat diperlakukan kurang ajar oleh dua orang polis di bilikku (kamar-Red) di lantai tiga. Polisi itu pura-pura ingin menolong kemudian malah memegang dadaku sampai kutepis tangan mereka," ujar Asih geram.
Waktu belasan perempuan yang dibebaskan itu sedang mengangkut barang milik mereka, saat yang sama, komplotan mucikari dan tukang pukul lari tunggang langgang dari Hotel Fajar yang bertingkat tiga. Proses pembebasan yang berjalan tanpa perlawanan dari sindikat ternyata menjadi awal berlanjutnya cerita sedih bagi mereka.
***
KANTOR Penghubung Urusan RI di Tawau melalui Konsul RI Makdum Tahir yang meminta bantuan kepolisian setempat, telah memohon agar para perempuan tersebut dapat tinggal di Wisma RI seperti sudah sering terjadi. Akan tetapi, permintaan tersebut ditolak Polis Tawau dengan dalih korban dibutuhkan sebagai saksi untuk proses hukum. Maka, mereka pun dibawa ke Balai Polis Tawau untuk mengikuti proses hukum sebagai saksi.
Perlakuan sebagai saksi korban sangatlah menjadi pengalaman tak terlupakan sekaligus siksaan bagi Asih dan teman-temannya.Mereka dimasukkan ke dalam sel, tidak diberi barang kebutuhan sehari-hari, bahkan jatah makan pun sangat minim.
"Seminggu pertama kami mandi tanpa sabun. Sikat gigi pun tidak. Kami menggosok gigi dengan jari," ujar Desi, teman Asih yang asal Tuban, Jawa Timur, sambil mencontohkan membersihkan mulut dengan jari.
Pagi hari, jatah mereka adalah sepotong roti kering dan setengah gelas teh pahit. Siang dan malam hari barulah diberikan nasi sepiring dengan lauk seadanya.
Perlakuan manusiawi muncul mendadak jika ada kunjungan dari pihak Konsulat RI. "Saya terkejut melihat mereka disuruh duduk di lantai dan kesulitan makan, minum, dan perlengkapan sehari-hari. Kami pun segera membantu mereka," kata Makdum Tahir.
Namun, setelah pihak konsulat pergi, perlakuan buruk kembali mereka terima. "Makanan dari konsul tidak boleh dibawa ke sel. Kami harus duduk di lorong depan sel untuk menyantap makanan yang dibawa Pak Konsul," tutur Asih pedih.
Itu barulah derita secara fisik belaka, belum lagi derita batin mereka. Tindakan semena-mena terus berlanjut terhadap mereka.
Borgol! Pemborgolan terhadap sepasang tangan mereka selama menjalani proses peradilan adalah bagian paling menyakitkan perasaan para korban. Beriringan mereka diborgol dikawal petugas dari Balai Polis ke Mahkamah Tawau (pengadilan setempat-Red) yang terletak di pusat kota dan menjadi tontonan banyak orang.
"Aku menunduk malu ditonton banyak orang yang melihat kami digari (diborgol-Red). Itu terjadi tiga kali, padahal kami korban dari perbuatan sindikat," kata Asih dengan mata berkaca-kaca.
Perlakuan berlebihan dari aparat Malaysia juga terjadi sewaktu menjalani pengobatan di rumah sakit. Akibat rahimnya sakit parah, Puput, salah seorang dari korban sindikat pelacuran, harus menjalani pengobatan di Hospital Tawau, tetapi dengan tangan dibelenggu.
"Dulu sewaktu disekap di hotel aku sering diurut karena kandunganku turun. Penyakit itu kambuh di tahanan polisi, dan aku dibawa ke Hospital Tawau dengan tangan diborgol dan dikawal dua petugas," ucap Puput yang terlihat sangat pucat dan kurus.
***
SETELAH pelecehan fisik dan mental, mereka menemui kenyataan pahit. Pihak Mahkamah membatalkan kasus dengan alasan tidak cukup bukti yang menunjukkan mereka dipaksa menjual diri di Malaysia.
Ironisnya, mereka malah dianggap sebagai pendatang haram yang menyalahi peraturan imigrasi. Tuduhan itu membuat mereka pun dipindah dari tangan Polisi ke pihak Imigresen yang menahan mereka di dalam PTS Tawau untuk menunggu proses deportasi.
Pihak konsul mengajukan protes terhadap proses hukum yang "semau gue" oleh aparat Malaysia. Setelah berulang kali mengajukan keberatan, akhirnya pihak Malaysia mengeluarkan para perempuan itu dari PTS.
"Kami sangat kecewa terhadap sikap Malaysia. Kami berupaya secepatnya mengeluarkan mereka agar dapat segera pulang ke kampung halaman. Setidaknya derita di Malaysia cepat berakhir," ujar Makdum.
Untuk mengatasi masalah perempuan yang dijual di Tawau, Makdum telah berusaha berulang kali melakukan pendekatan terhadap pejabat setempat. Sedangkan dari Jakarta, menurut Makdum, hingga kini belum ada instruksi dari pemerintah pusat tentang penanganan WNI yang dipaksa melacur di Sabah ataupun Malaysia secara keseluruhan.
Yang jelas, kepedulian pemerintah pusat sangat diharapkan untuk menuntaskan masalah ini. Dalam pantauan Kompas pekan ini di Tawau, Malaysia, belasan hotel mesum tempat praktik pelacuran yang mempekerjakan WNI tetap buka siang-malam dengan bebasnya.
Aparat Malaysia dalam hal ini terbukti tidak bisa diandalkan untuk menuntaskan perdagangan wanita karena mereka pun terlibat di dalamnya ataupun mendiamkan. Pengakuan para korban memperkuat dugaan itu. Asih, Desi, dan Puput serempak mengaku, tidak ada satu pun polis lelaki di Tawau yang tidak menjadi langganan pelacuran di kota pelabuhan itu.
"Semua polis itu pernah naik hotel. Apalagi para pimpinan mereka seperti Tuan Li yang tidak pernah membayar kalau mem-booking kami di Hotel Marco Polo," ujar Desi yang diiyakan teman-temannya. (Iwan Santosa, Tawau-Sabah, Malaysia)
Error! Hyperlink reference not valid.
______________________Terbitan : 7 Okt 2002
Diterbitkan oleh : Lajnah Penerangan dan Dakwah, DPP Kawasan Dungun, Terengganuhttp://clik.to/tranung atau http://www.tranungkite.cjb.netEmail : webmaster@tranungkite.netatau : tranung2000@yahoo.com
Mohon maaf bilah kedatangan saya mengganggu. Saya ingin berbagi cerita kisah sukses saya disini. Perkenalkan nama saya ABDUL ROCHMAN JUNAIDY asal kediri seorang mantan TKI dulu kerja di MALAYSIA selama 7 tahun lamanya. Singkat cerita.. Saya sangat berterima kasih kpd IBU SITI FADILAH berkat postingan beliau di salah satu website saya bisa kenal PAK H.CAHYONO ternyata beliau guru spiritual yang sering membantu orang melalui Nomer Togel 3D/4D/5D/6D, Uang Gaib, Pelet Dan Pelaris. Berkat bantuan PAK H.CAHYONO melalui pemasangan nomer togel 6D Nya alhamdulillah saya menang RM,427.000 selama 3 kali pemasangan. saya tidak menyangka kalau saya bisa sesukses ini dan ini semua berkat bantuan PAK H.CAHYONO, saya yang dulunya bukan siapa-siapa bahkan saya juga selalu dihina orang alhamdulillah kini sekarang saya sudah punya rumah dan usaha sendiri itu semua atas bantuan beliau. Saya tidak tau harus berbuat apa untuk membalas kebaikan beliau karna banyakNya orang yg perna saya telpon dari google untuk minta bantuanNya tidak ada satu pun yg berhasil malah hutang saya tambah banyak. Baik burukNya hanya tuhan yang tahu apa boleh buat kondisi keuangan sudah tidak memungkinkan. Bagi anda yg diluar negri maupun dalam negri butuh bantuan beliau jangan takut atau maluh segerah hubungi PAK H.CAHYONO di nomer 085213737273 / +6285213737273 Semua akan berubah Karna kesuksesan ada pada diri kita sendiri. Yakin dan percaya bahwa itu semua akan tercapai berkat bantuan dari PAK H.CAHYONO dan muda2han anda cocok dan beliau bisa membantu anda seperti saya. Sekian dan terima kasih atas tumpangannya semoga dengan adaNya pesan singkat ini bisa bermanfaat kpd saudara...
Wassalam...
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home
Subscribe to Posts [Atom]
